Elga-Ahmad

Blog pribadi. Seorang pencinta bahasa & kopi hitam ☕
#Didactique #FLE #BIPA #Interculturel #Grammaire

Tampilkan postingan dengan label Ungkapan. Tampilkan semua postingan

Katakan “ Y a pas photo ” ketika kamu  tidak mempunyai keraguan sama sekali akan suatu hal! Ungkapan yang relatif baru tersebut mulai diguna...

Katakan “Y a pas photo” ketika kamu tidak mempunyai keraguan sama sekali akan suatu hal!


Ungkapan yang relatif baru tersebut mulai digunakan pada akhir abad ke-20, yakni ketika acara pacuan kuda berlangsung. Pada masa itu, kamera digunakan untuk memotret di garis akhir agar dapat menentukan peserta lomba yang tiba lebih dahulu, terutama jika para peserta berlari memacu kudanya secara berdekatan. Ketika seorang peserta tiba di garis tersebut dengan jarak yang jauh dari lawan di belakangnya, hal itu memudahkan juri untuk menentukan pemenang dan tidak memerlukan pengambilan foto. Tidak ada foto! (Il n’y a pas de photo!) – Tidak ada keraguan untuk memilih juara lomba. 


[Referensi]



***
Untuk menemukan artikel dengan tema tertentu, gunakan kolom pencarian cepat di bawah ini:

Ketika seseorang datang pada saat yang tidak tepat dan merusak suasana , kita bisa mengatakan, “ Il est bien arrivé comme un chien dans un j...


Ketika seseorang datang pada saat yang tidak tepat dan merusak suasana, kita bisa mengatakan, “Il est bien arrivé comme un chien dans un jeu de quille”. 


Idiom ini digunakan pertama kali pada abad ke-16 ketika permainan boling (jeu de quille) sangat tren di masyarakat. Pada permainan tersebut, peserta harus menggelindingkan bola ke arah deretan pion. Coba kamu bayangkan hal yang terjadi jika seekor anjing tiba-tiba lewat di depan pemain yang hendak melempar bolanya dan merusak susunan pion! Kemudian pada akhir abad ke-20, sebuah film berjudul “Un chien dans un jeu de quilles“ (Seekor Anjing di Permainan Boling) diputar di banyak bioskop Prancis. 


Ungkapan lain yang sepadan dengan idiom di atas, yakni:  arriver comme un cheveu sur la soupe dan un éléphant dans un magasin de porcelaine.


[Referensi]  


Baca juga: Ungkapan saat Lapar



***
Untuk menemukan artikel dengan tema tertentu, gunakan kolom pencarian cepat di bawah ini:

Ungkapan “ Couper la poire en deux ” (Membagi dua sebuah pir) artinya melakukan kompromi; membagi suatu hal secara adil . Mengapa buah pir, ...

Ungkapan “Couper la poire en deux” (Membagi dua sebuah pir) artinya melakukan kompromi; membagi suatu hal secara adil.


Mengapa buah pir, bukan semangka atau kedondong?


Idiom ini diperkirakan muncul pada karya-karya sastra di Prancis tahun 1880-an. Persisnya pada 1882, Félix Galipaux dan Lucien Cressonnois dalam sebuah pertunjukan sketsa yang berjudul “La poire en deux” (Pir yang Terbagi Dua), mereka memerankan tokoh yang tengah berdebat karena memperebutkan sebuah naskah untuk dibacakan di atas panggung. Setelah pertengkaran yang sengit, salah satu dari mereka mengusulkan untuk membagi dua “buah pir” tersebut supaya setiap orang bisa membacakan bagiannya masing-masing. Pertunjukan tersebut pun berakhir dengan adegan perpisahan kedua tokoh, tanpa pembacaan naskah yang dipermasalahkan itu.


Jadi, karya sastra yang memengaruhi masyarakat untuk menggunakan ungkapan ini atau sebaliknya? Tidak ada yang tahu pasti akan jawabannya.

[Referensi]


Baca juga:
Ungkapan saat Lapar

Selama Perang Dunia Pertama, kosakata bahasa Prancis memiliki perkembangan yang pesat, terutama ditandai dengan banyaknya penyerapan kata da...


Selama Perang Dunia Pertama, kosakata bahasa Prancis memiliki perkembangan yang pesat, terutama ditandai dengan banyaknya penyerapan kata dan istilah yang berasal dari jargon para tentara perang.


Pada masa itu, Charles Baudelaire untuk pertama kalinya yang membuat ungkapan avoir le cafard dalam karya puisinya berjudul Destruction yang dimuat dalam kumpulan puisi Les fleurs du mal (1857). Untuk menggambarkan sebuah keadaan sedih yang luar biasa, ia mengibaratkan seekor serangga berwarna gelap yang hidup dalam kegelapan. Maka, ia terpikir untuk menggunakan kiasan tersebut dengan citra seekor kecoa (cafard : n.m.). Sejak saat itu, banyak tentara terutama yang berasal dari Afrika, yang menggunakan ungkapan avoir le cafard tersebut untuk menyatakan keadaan mereka yang memang terisolasi karena kekacauan perang yang terjadi, bak seekor kecoa.  


Rujukan lain menyatakan bahwa kata cafard diadaptasi dari kata kafr (bahasa Arab). Kata tersebut mengandung banyak makna (polisemi): orang yang tidak beriman; pengadu; kecoa; kemurungan.


Ungkapan serupa yakni avoir le bourdon, yang diduga muncul tahun 1915. 


Bourdon (n.m.) adalah seekor binatang sejenis serangga yang mirip lebah besar dengan nama Latin, Bombus. Kita mengenalnya dalam bahasa Inggris sebagai Bumblebee. Serangga ini berwarna gelap dan dapat mengeluarkan suara khasnya yang berat juga berdengung ketika terbang. 


Maka, ungkapan avoir le cafard maupun avoir le bourdon sama-sama dapat diartikan sebagai idiom yang menyatakan keadaan seseorang ketika tengah dirundung kegelisahaan, sedih hati yang dalam, kegalauan, ...


Contoh kalimat: “Je ne peux pas me concentrer aujourd'hui; J'ai le cafard.

[Referensi 12]

Si Lebah yang Galau

Beberapa minggu sebelum ujian sidang tahun lalu, saya diundang pemilik apartemen yang saya tempati untuk minum kopi di rumahnya. “Bagaimana ...

Beberapa minggu sebelum ujian sidang tahun lalu, saya diundang pemilik apartemen yang saya tempati untuk minum kopi di rumahnya.


“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya dia penasaran. “Semua baik-baik saja dan saya baru saja diberi tahu direktur penelitian, bahwa ujian akan dijadwalkan setelah libur musim panas.”, jawab saya ringkas. Dengan spontan, dia lalu bersorak, “Bientôt la quille!”.


Melihat kening saya berkerut, iapun menjelaskan ungkapan idiomatis tersebut.


Quille (n.f.) dapat diartikan sebagai pion yang dilempari bola dengan cara digelindingkan pada permainan boling –Le jeu de quilles, dalam bahasa Prancis. Namun dalam ungkapan ini, la quille yang dimaksud ialah sebuah benda setinggi sekitar setengah meter yang diberikan kepada seseorang yang dinyatakan berhasil menyelesaikan tugasnya dalam program wajib militer. Biasanya, pion diberikan pada saat acara perayaan dengan minum-minum. Pion ini lebih menyerupai piala yang dibuat dari kayu dengan motif ukiran tertentu. Setelah beratnya tugas yang harus dijalankan, peserta wajib militer akhirnya dapat kembali pulang dan menjalani rutinitasnya lagi dalam kehidupan normal.


Bientôt la quille!” diungkapkan kepada /oleh seseorang yang dalam waktu dekat akan segera bebas dari tugasnya yang selama ini menjadi beban.

Ungkapan un temps de chien berarti “ Cuaca yang sangat buruk ”. Konsep ini berawal dari citra anjing ( chien ) yang dipandang sebagai binata...

4


Ungkapan un temps de chien berarti “Cuaca yang sangat buruk”. Konsep ini berawal dari citra anjing (chien) yang dipandang sebagai binatang yang jelek bagi sebagian masyarakat. Di kalangan umat muslim, anjing adalah salah satu makhluk yang bernajis berat. Sedangkan bagi umat Kristen –berdasarkan Matius, Yesus pernah berkata, “Jangan berikan sesuatu yang suci kepada anjing-anjing!” serta “Tidaklah adil mengambil roti dari seorang anak dan melemparkannya kepada seekor anjing.” Di dalam bahasa Indonesia, kata anjing digunakan juga untuk mengumpat. Hal itu sangat keras dan kasar sekali.


Ungkapan lain berbahasa Prancis yang juga bermakna negatif dan yang menggunakan kata anjing, yakni: une humeur de chien, un mal de chien, une vie de chien, prendre quelqu'un pour un chien, se faire traiter comme un chien, être chien avec quelqu'un, ...


Agar tidak menyinggung para pencinta anjing sebagai hewan peliharaannya, maka katakan "Il fait un temps à ne pas laisser un chien dehors" (Jangan biarkan anjing berada di luar dengan cuaca ini!).

[Referensi]

Ungkapan ini pertama kali dipakai dalam masyarakat Prancis pada awal abad ke-20. En faire tout un fromage berarti, “ Membesar-besarkan sebua...


Ungkapan ini pertama kali dipakai dalam masyarakat Prancis pada awal abad ke-20. En faire tout un fromage berarti, “Membesar-besarkan sebuah masalah.


Ide ini berasal dari sebuah konsep pembuatan keju (fromage) yang dibuat dari hanya sekedar susu. Namun dengan keahlian tertentu, susu dapat diolah untuk kemudian menghasilkan sebuah produk yang lebih kaya akan kandungan nutrisinya dan lebih tinggi nilai jualnya.


Ungkapan lain yang sepadan: en faire tout un monde, en faire tout un cinéma, en faire toute une affaire, en faire tout un plat.


Dengan kata lain, ekspresi idiomatik ini bermakna mendramatisir sebuah keadaan yang sebenarnya sederhana atau biasa-biasa saja. Ya, lebay! 😁   

[Referensi: 12]

Être fier comme un coq berarti “ sombong seperti ayam jago ”. Hewan ini dipilih sebagai kiasan dalam ungkapan ini sebab kebiasaanya berjalan...


Être fier comme un coq berarti “sombong seperti ayam jago”. Hewan ini dipilih sebagai kiasan dalam ungkapan ini sebab kebiasaanya berjalan perlahan-lahan sambil membusungkan dada dan menengadahkan kepalanya, bak seorang raja. Ayam jantan dikenal pandai menaklukkan betina. Le coq adalah simbol dari negara Prancis.


Pada awalnya, idiom ini menggunakan kiasan burung merak (un paon). Kamus bahasa Prancis yang dirilis Académie Française pada 1932 sempat memuat ungkapan être fier comme un paon. Kemudian, orang Prancis mulai memakai kiasan seekor kutu (un pou). Memang tidak ada keterkaitan sama sekali antara citra sombong dari makhluk kecil ini. Karena itu, disinyalir bahwa kata un pou ini hanya merupakan pelesetan dari kata pullus yang artinya ayam jantan muda dalam bahasa Latin. Seiring waktu berjalan, ekspresi yang dipakai masyarakat adalah être fier comme un coq.


Ungkapan yang sepadan dalam bahasa Indonesia, yakni sombong seperti berdiri di atas gunung

[Referensi: 12

Ungkapan '' avoir un poil dans la main'' yang berarti secara harfiah "ada rambut halus (bulu) di telapak tangan"...


Ungkapan ''avoir un poil dans la main'' yang berarti secara harfiah "ada rambut halus (bulu) di telapak tangan", merupakan sebuah kiasan. Makna sebenarnya dari ungkapan tersebut yaitu "sangat malas".


Dapat diibaratkan seperti seseorang yang tidak melakukan apa-apa karena kemalasannya, sehingga rambut pun bisa tumbuh di telapak tangannya. Tangan pemalas yang tidak digunakan sebagaimana mestinya untuk mengerjakan sesuatu.


Ungkapan yang mulai dipakai penutur bahasa Prancis sejak abad ke-19 itu belum diketahui asal muasalnya secara pasti.


Bahkan jika hendak menyebut seseorang yang super malas, Anda bisa juga katakan "avoir une queue de vache dans la main". Ada ekor sapi tumbuh di telapak tangannya!


Alors, pour bien apprendre une langue étrangère, il ne faut pas "avoir un poil dans la main".

[Referensi]

Perjalanan Paris-Toulouse yang ditempuh kurang lebih delapan jam dengan menggunakan bus, memberikan kesempatan yang cukup lama bagi saya unt...


Perjalanan Paris-Toulouse yang ditempuh kurang lebih delapan jam dengan menggunakan bus, memberikan kesempatan yang cukup lama bagi saya untuk berbincang dengan seorang bapak yang duduk di jok sebelah. Sepanjang perjalanan, kami bercakap mengenai banyak hal. Apalagi kami berdua sama-sama beruntung dapat membeli tiket perjalanannya dengan tarif promo yang murah, hanya delapan euro untuk sekali jalan. Sedangkan trayek sebaliknya, Toulouse-Paris, saya peroleh dengan membayar 12 euro, masih termasuk tarif promo! 🤑


Sebenarnya bukan cerita tentang ini yang akan saya tulis di sini. Namun salah satu topik diskusi kami selain tentang Jawa dan Bali, adalah soal bahasa dan budaya Prancis. Memang, saya banyak bertanya kepada beliau terutama tentang ungkapan-ungkapan yang membuat saya tertarik mendalami bahasa Molière tersebut.


Ungkapan atau ekspresi adalah sebuah kata atau kalimat untuk mengutarakan suatu hal dengan menggunakan pengandaian tertentu. Karena perbedaan budaya, terkadang sebuah makna dalam bahasa asing diungkapkan dengan cara yang sama sekali lain. Kali ini, saya akan membahas ungkapan yang digunakan dalam bahasa Prancis untuk menyatakan keadaan lapar –ingin segera makan.


Tanpa menggunakan ungkapan, kamu bisa bilang: J’ai faim. (Saya lapar.)

 

Dalam budaya Indonesia, kita sering mengatakannya dengan idiom: perut yang keroncongan.

 

avoir faim de loup

Loup (n.m.) yang berarti serigala, memiliki posisi yang penting dalam dongeng, legenda, dan mitologi di negara-negara Eropa. Pada umumnya, binatang buas ini memiliki peran yang negatif atau jahat. Mungkin kamu masih ingat dengan cerita Tiga Babi Kecil? Maksud ungkapan ini mudah dipahami, bukan? Ketika kamu bilang, “J’ai faim de loup.”, maka dapat diartikan secara harfiah: “Saya lapar seperti serigala (yang tengah memangsa tiga babi kecil untuk segera dimakan).”


avoir la dalle

dalle (n.f.) adalah sebuah tempat terbuka di antara bangunan atau gedung, yang datar dan kosong. Kata dalle juga digunakan untuk menyatakan tidak ada apapun; kosong. Dengan konsep ini, kamu bisa ungkapkan “J’ai la dalle” ketika lapar sekali. Seolah-olah perutmu kosong sehingga perlu segera diisi makanan.   


Mourir de faim

mourir (v.) berarti mati; meninggal. Ini adalah ungkapan yang paling langsung dan keras untuk menyatakan kamu tengah kelaparan, hingga hampir meninggal. Sebuah keadaan yang urgen, harus cepat-cepat menuju meja makan. Dalam ungkapan ini, seolah-olah kamu tengah meminta perhatian khusus dan moral yang baik dari lawan bicaramu, terhadap suatu krisis kelaparan –seperti yang melanda beberapa tempat di dunia, yang menyebabkan kematian massal. Maka katakan, “Je meurs de faim.”.


Ungkapan lain yang lebih formal:
Untuk mengakhiri tulisan ini, berikut adalah beberapa ungkapan lain yang sedikit lebih formal untuk menyatakan hal yang sama:
mon ventre crie famine; avoir le ventre creux; avoir une faim dévorante; être affamé