Elga-Ahmad

Blog pribadi. Seorang pencinta bahasa & kopi hitam ☕
#Didactique #FLE #BIPA #Interculturel #Grammaire

Di Indonesia, seperti juga di negara lain, basa-basi memiliki akar yang kuat dalam tradisi sopan santun dan norma sosial. Namun, seiring den...

Basa-basi Anak Muda: Menentang Konvensi, Membangun Koneksi

Di Indonesia, seperti juga di negara lain, basa-basi memiliki akar yang kuat dalam tradisi sopan santun dan norma sosial. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan pergeseran nilai, beberapa bentuk basa-basi yang dahulu dianggap sopan kini dipertanyakan oleh generasi muda. Contoh nyata adalah pertanyaan semacam “Kapan akan menikah?” atau “Jangan lupa bawa oleh-oleh, ya?” yang kerap dilontarkan di lingkungan keluarga atau pertemuan sosial.


basa-basi anak muda
Foto oleh Afta Putta Gunawan

Keluhan mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut belakangan ini sering muncul di media sosial. Para netizen muda menganggapnya tidak lagi relevan dengan gaya hidup saat ini dan bahkan terkesan mengatur hidup mereka. Kritik ini mencerminkan adanya perubahan kebutuhan komunikasi di era digital ketika individualitas dan privasi lebih dihargai.


Selain itu, perkembangan urbanisasi dan globalisasi juga memicu munculnya gaya komunikasi baru yang menekankan keautentikan dan spontanitas, berbeda dengan ritual komunikasi yang kaku di masa lalu.


Basa-basi atau obrolan ringan (small talk) sering dianggap remeh yang hanya melibatkan topik sepele. Namun, di balik kesederhanaannya terdapat fungsi sosial yang sangat penting. Sejak Bronisław Malinowski memperkenalkan konsep komunikasi fatik—yaitu komunikasi yang bertujuan membangun ikatan sosial melalui pertukaran kata-kata yang tampak tidak informatif—basa-basi telah menjadi elemen kunci dalam interaksi antarmanusia.


Obrolan ringan ini berperan sebagai perekat hubungan sosial yang membantu menciptakan rasa kebersamaan, mengurangi keheningan yang membuat canggung, dan bahkan memfasilitasi transisi menuju diskusi yang lebih dalam.


Di era modern, terutama dengan kemunculan teknologi digital dan globalisasi, praktik basa-basi mengalami transformasi. Bentuk-bentuk tradisional yang pernah dianggap sopan dan relevan kini sering dipertanyakan, terutama oleh generasi muda.

 


Antara Universalitas dan Kekhasan Budaya

Meskipun tampak remeh, basa-basi merupakan kegiatan metakomunikatif yang tidak hanya berfungsi untuk mengisi kekosongan atau menghindari keheningan, tetapi juga sebagai alat untuk membangun dan memelihara hubungan sosial. Secara universal, kebutuhan untuk berkomunikasi dan merasakan kehangatan hubungan antarpribadi merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia. Berbasa-basi dapat mempermudah terbentuknya interaksi awal dengan memberikan sinyal bahwa kedua pihak memiliki niat untuk bersosialisasi secara positif.


Di sisi lain, bentuk, isi, dan cara penyampaian basa-basi sangat dipengaruhi oleh konteks budaya dan sejarah. Misalnya, di dalam beberapa budaya, topik-topik tertentu seperti cuaca, olahraga, atau kegiatan akhir pekan sering dijadikan pembuka percakapan. Sedangkan di budaya lain, pertanyaan personal yang terlalu mendalam bisa dianggap tidak sopan.


Di Indonesia, tradisi komunikasi yang kuat dan nilai-nilai kesopanan memiliki karakteristik tersendiri. Meskipun ada norma untuk saling menyapa dan bertanya kabar, generasi muda kini mulai mempertanyakan relevansi beberapa ungkapan yang selama ini dianggap formal atau bahkan mengandung stereotipe. Mereka kini cenderung tidak setuju lagi mendapat pertanyaan basa-basi, seperti “Mau pergi ke mana?”–dari seorang penumpang yang duduk di jok sebelah dalam angkutan umum, “Lagi menyapu, ya?”–yang dilontarkan seseorang pada saat mereka tengah membersihkan halaman rumah, dan sebagainya.

 

Baca juga: Seni berbasa-basi supaya tetap relevan dengan perbedaan budaya dan perubahan zaman


Basa-basi sebagai Alat Bekerja Sama

Selain fungsi sosial dalam konteks personal, basa-basi memiliki peran penting dalam dunia profesional dan komersial. Dalam lingkungan kerja, obrolan ringan dapat menciptakan suasana yang lebih ramah dan kolaboratif, sehingga meningkatkan kepercayaan di antara rekan sejawat.


Di tempat kerja, basa-basi sering digunakan sebagai pemecah kebekuan (ice breaker) pada awal pertemuan atau dalam sebuah rapat resmi. Dengan memberikan kesempatan bagi para kolega untuk saling mengenal secara informal, suasana kerja menjadi lebih kondusif dan tim dapat bekerja sama dengan lebih harmonis.


Dalam hubungan bisnis, basa-basi berfungsi sebagai alat untuk membangun loyalitas pelanggan. Ketika pelaku usaha memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara personal dan hangat, mereka dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan dan membuat mereka merasa lebih nyaman. Pada gilirannya, ini akan membantu transaksi berhasil dan menjalin hubungan jangka panjang dengan pelanggan.


Teknologi digital telah mengubah cara kita berkomunikasi. Basa-basi kini juga terjadi melalui media sosial, aplikasi pesan instan, dan platform video call. Meski formatnya berubah, esensi untuk menciptakan hubungan yang menyenangkan dan membangun jaringan tetap sama.


Maka, basa-basi adalah fenomena komunikasi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar obrolan ringan. Basa-basi merupakan kegiatan metakomunikatif yang mendasar untuk membangun ikatan sosial dan menjaga kohesi dalam interaksi antarindividu.


Strategi komunikasi yang adaptif dan sensitif terhadap perubahan generasi menjadi kunci untuk memastikan bahwa basa-basi tetap relevan dan mampu memenuhi kebutuhan interaksi sosial di masa depan. Dengan memahami evolusi praktik komunikasi ini, kita dapat merancang pendekatan yang lebih inklusif dan efektif dalam berbagai situasi—baik dalam kehidupan pribadi, profesional, maupun lintas budaya.


Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital, fleksibilitas dalam berkomunikasi menjadi kompetensi utama. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyesuaikan bentuk dan isi basa-basi dengan dinamika zaman. Mengganti pertanyaan atau ungkapan yang terkesan kaku dengan yang lebih relevan dan bersahabat, terutama dalam konteks interaksi antargenerasi dan antarbudaya, akan membantu mengurangi kesalahpahaman dan memperkuat hubungan sosial.


Sebagai alternatif, alih-alih mengajukan pertanyaan “Kapan akan menikah” kepada keponakan yang masih melajang, kita bisa bertanya “Apa rencanamu tahun ini?”. Frasa ini bersifat terbuka dan menghormati pilihan lawan bicara untuk berbagi informasi pribadi atau tidak.   


Daripada meminta teman “Jangan lupa bawa oleh-oleh, ya?”, lebih baik berkata “Selamat liburan. Ditunggu cerita liburannya.” Dengan mengganti fokus dari barang (oleh-oleh) ke kisah perjalanan, pertanyaan ini mengedepankan nilai momen dan pengalaman–sesuai dengan gaya hidup anak muda yang lebih menghargai cerita daripada benda fisik.


Ketimbang “Mau pergi ke mana?”, lebih baik diganti dengan “Ada rencana seru hari ini?” yang dapat mengundang lawan bicara untuk berbagi cerita soal kegiatannya atau destinasi tujuan tanpa harus menyebut “pergi” secara eksplisit.


Kita bisa bertanya, “Wah, sedang sibuk, ini?”–yang lebih informal, tetapi positif–sebagai pengganti pertanyaan “Lagi menyapu, ya?”.


Pertanyaan alternatif ini pada dasarnya bermaksud lebih menghormati privasi dan otonomi orang lain. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan tersebut bersifat lebih terbuka sehingga memungkinkan percakapan berlangsung lebih substansial dan tidak terlalu dangkal. Dengan kata lain, basa-basi modern berfokus pada pembentukan hubungan nyata daripada hanya mengisi ruang percakapan. Sebaliknya, pertanyaan basa-basi konvensional mungkin saat ini dianggap mengganggu dan tidak berarti lagi, seolah pepesan kosong.  


Pada akhirnya, basa-basi bukan sekadar obrolan ringan semata. Ia merupakan cerminan nilai, norma, dan identitas budaya yang terus berubah. Denagn demikian, basa-basi tetap menjadi alat yang efektif dalam membangun dan memelihara hubungan antarindividu.

Gunakan format APA berikut jika kamu mengutip tulisan ini:
Prayoga, E. A. (2025, March 03). Basa-basi Anak Muda: Menentang Konvensi, Membangun Koneksi. Blog Elga Ahmad. Diakses pada [tuliskan tanggal akses], dari https://blog.elga-ahmad.com/2025/02/dubbing-prancis.html.


0 komentar: