Elga-Ahmad

Blog pribadi. Seorang pencinta bahasa & kopi krim!
#Didactique #FLE #BIPA #TICE #Interculturel #Grammaire

Ungkapan ini pertama kali dipakai dalam masyarakat Prancis pada awal abad ke-20. En faire tout un fromage berarti, “ Membesar-besarkan sebua...

Ungkapan ini pertama kali dipakai dalam masyarakat Prancis pada awal abad ke-20. En faire tout un fromage berarti, “Membesar-besarkan sebuah masalah.

Ide ini berasal dari sebuah konsep pembuatan keju (fromage) yang dibuat dari hanya sekedar susu. Namun dengan keahlian tertentu, susu dapat diolah untuk kemudian menghasilkan sebuah produk yang lebih kaya akan kandungan nutrisinya dan lebih tinggi nilai jualnya.

Ungkapan lain yang sepadan: en faire tout un monde, en faire tout un cinéma, en faire toute une affaire, en faire tout un plat.

Dengan kata lain, ekspresi idiomatik ini bermakna mendramatisir sebuah keadaan yang sebenarnya sederhana atau biasa-biasa saja. Ya, lebay!  

[Referensi: 12]

Anda pasti sering mendengar kalimat-kalimat berikut: Merci de votre attention, Merci pour ton aide, Merci pour venir à l’heure, Merci d’être...

Anda pasti sering mendengar kalimat-kalimat berikut: Merci de votre attention, Merci pour ton aide, Merci pour venir à l’heure, Merci d’être venu.e.s.,


Kata merci digunakan untuk mengucapkan terima kasih kepada lawan tutur. Hal yang menjadi persoalan yakni penggunaan preposisi atau kata depan yang mengikuti kata tersebut; merci pouratau merci de… Keduanya memang dapat dipadankan maknanya dalam bahasa Indonesia dengan kata depan untuk (Terima kasih untuk …) atau bahkan tidak diberikan terjemahannya (luluh), seperti pada kalimat: Merci d’être venu.e.s. (Terima kasih sudah datang.)


Penjelasan ini saya buat berdasarkan pada artikel Le Figaro yang diterbitkan pertama kali pada Juli 2017 lalu dan sempat diperbarui [Referensi]. Memang, Académie française (Akademi Bahasa Perancis) selaku lembaga resmi yang menangani segala hal tentang bahasa Prancis di negara keju tersebut, hingga saat ini belum memberikan rekomendasi terkait hal ini. Sehingga pertanyaan yang menjadi judul artikel ini pun masih menjadi polemik di antara penutur bahasa Prancis itu sendiri. Faktanya, saya mendapati penjelasan yang bertolak belakang dengan pemaparan Le Figaro, pada situs web La langue française [Referensi].

Adapun saya mengambil rujukan sepenuhnya untuk tulisan ini berdasarkan artikel Le Figaro, karena alasan; kelogisan deskripsinya, keterbaruan artikelnya, serta kredibilitas media tersebut.


Kata merci bisa diikuti oleh kata kerja utuh (infinitif) yang selalu diikuti oleh preposisi de. Misalnya, “Merci de m'écouter.” Namun, kita dapat pula menggunakan pola merci pour yang diikuti juga oleh kata kerja utuh pada konteks yang mengindikasikan kala akan datang (futur). Kata kerja yang digunakan belum sepenuhnya dikerjakan. Contohnya pada kalimat “Merci pour votre attention”, yakni ketika penutur mengharapkan perhatian (attention) dari pihak lawan tuturnya.


Maka, pola merci de digunakan pada keadaan sebaliknya yaitu ketika aksi (kata kerja) sudah selesai dilakukan. Misalnya pada akhir pidato, seorang pembicara mengucapkan, “Merci de votre attention.” untuk menyampaikan terima kasih kepada hadirin atas perhatiannya selama ia berbicara.


Namun demikian, Girodet –seorang leksikograf Prancis, menyatakan bahwa struktur merci de merupakan bentuk ragam bahasa resmi.


Alors, merci d’avoir consulté mon blog ! Winking smile

Être fier comme un coq berarti “ sombong seperti ayam jago ”. Hewan ini dipilih sebagai kiasan dalam ungkapan ini sebab kebiasaanya berjalan...

Être fier comme un coq berarti “sombong seperti ayam jago”. Hewan ini dipilih sebagai kiasan dalam ungkapan ini sebab kebiasaanya berjalan perlahan-lahan sambil membusungkan dada dan menengadahkan kepalanya, bak seorang raja. Ayam jantan dikenal pandai menaklukkan betina. Le coq adalah simbol dari negara Prancis.

Pada awalnya, idiom ini menggunakan kiasan burung merak (un paon). Kamus bahasa Prancis yang dirilis Académie Française pada 1932 sempat memuat ungkapan être fier comme un paon. Kemudian, orang Prancis mulai memakai kiasan seekor kutu (un pou). Memang tidak ada keterkaitan sama sekali antara citra sombong dari makhluk kecil ini. Karena itu, disinyalir bahwa kata un pou ini hanya merupakan pelesetan dari kata pullus yang artinya ayam jantan muda dalam bahasa Latin. Seiring waktu berjalan, ekspresi yang dipakai masyarakat adalah être fier comme un coq.

Ungkapan yang sepadan dalam bahasa Indonesia, yakni sombong seperti berdiri di atas gunung

[Referensi: 12

Sebuah aplikasi bernama “ Pas à pas ” (Langkah demi Langkah) yang dirilis secara multiplatform oleh CAVILAM dan Alliance française, layak un...

Sebuah aplikasi bernama “Pas à pas” (Langkah demi Langkah) yang dirilis secara multiplatform oleh CAVILAM dan Alliance française, layak untuk diunduh. Pembelajar tingkat pemula atau Anda yang sekadar mau mengenal bahasa Prancis dapat segera menjajal program pembelajaran ini melalui perangkat apapun yang dimiliki.

Melalui aplikasi ini, pengguna akan diberikan pengenalan tentang bahasa Prancis dalam penggunaan dasarnya sebagai alat komunikasi dalam beragam situasi sehari-hari. Konten disajikan secara tahap demi tahap dengan ilustrasi berupa gambar dan suara. Fokus dari pembelajarannya yakni komunikasi lisan, seperti: memberi salam, berkenalan, menggunakan alat transportasi umum, berkomunikasi dengan petugas di hotel dan di rumah makan, membeli sesuatu di butik atau di toko, meminta informasi, dan berbicara tentang hobi. Selain menawarkan tema yang beragam, aplikasi ini juga memberikan latihan dengan bentuk yang bervariasi. 

Unduh secara gratis aplikasi ini melalui tautan langsung berikut sesuai sistem operasi gawai Anda: iOS ; Android ; Windows XP/Vista/7/8/10 ; macOS ; Linux 32bits atau melalui laman ini.  

Selamat belajar! 



***
Untuk menemukan artikel dengan tema tertentu, gunakan kolom pencarian cepat di bawah ini:

Walaupun saya masih sering menemukannya hampir setiap hari, ternyata beberapa aktivitas ini dilarang dilakukan pada saat naik metro di Paris...

Walaupun saya masih sering menemukannya hampir setiap hari, ternyata beberapa aktivitas ini dilarang dilakukan pada saat naik metro di Paris. Selain mengemis, mengamen (kecuali di stasiun pada acara dan untuk tujuan tertentu, dengan sponsor RATP -perusahaan yang mengelola metro & bus kota), menyebarkan iklan/propaganda, dan membuat keributan, ada juga beberapa hal lain yang apabila dikerjakan dan ketahuan petugas maka terancam dikenai denda setidaknya 60 euro.

Metro (Métropolitain de Paris) adalah sebuah alat transportasi massal sejenis kereta cepat yang bergerak pada umumnya di rel bawah tanah. Saat ini secara keseluruhan, terdapat 14 jalur metro yang menghubungkan banyak stasiun di ibu kota Prancis tersebut.

Mengendarai otopet, papan luncur, sepatu roda, atau sepeda
Tidak hanya di dalam gerbong metro, mengendarai alat transportasi kecil ini juga tidak diperkenankan di seluruh area stasiun, di peron maupun di lorong-lorongnya. Peraturan ini diberlakukan karena banyaknya penumpang dan untuk mencegah terjadinya tabrakan. Berjalan kaki adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan penumpang untuk menuju dan keluar dari metro. Namun demikian, hal ini tidak berlaku bagi penumpang RER (Réseau Express Régional) –komuter penghubung Paris dan pinggir kota, ataupun Metro jalur 1 di luar hari dan jam sibuk. Maksud saya bukan diperbolehkan bersepeda atau berselancar bebas di dalam gerbongnya, tapi penumpang diberi hak untuk membawa alat-alat ini dengan menuntun atau menentengnya!

Mengambil foto atau video
Di Prancis maupun di kebanyakan negara Eropa, mengambil foto atau video seseorang terutama pada bagian wajah tanpa seizinnya merupakan salah satu pelanggaran berat terhadap hak cipta. Jadi, berhati-hatilah memotret di tempat umum! Ini juga yang menjadi alasan mengapa banyak muka diburamkan ketika ada wawancara televisi dengan latar orang-orang. Bahkan sekarang, tidak boleh mengambil foto atau video tanpa izin tertulis di sekitar area RATP.

Salah kostum dan bau
Bukan karena Paris sebagai pusat mode dunia, tetapi jika kita berpakaian tidak sepantasnya (misalnya hanya memakai baju renang atau bahkan tanpa busana), hal ini akan membuat petugas untuk meminta uang denda. Aturan ini juga berlaku kepada seseorang yang berpakaian kotor sekali, sehingga menimbulkan bau tidak sedap. 

Salah arah
Hati-hati jika berjalan di lorong metro. Harap perhatikan dengan baik tanda atau petunjuk arah. Jangan melawan arus! Jika memaksa dan bertemu petugas yang tengah melakukan razia, siap-siap saja untuk membayar denda. Dalam kasus ini, saya sering berpikir bahwa kegiatan Pramuka di sekolah itu sangat penting dan bermanfaat.






[Referensi 1 - 2]

Seperti tahun-tahun sebelumnya, la Journée internationale de la Francophonie – la Semaine de la langue française et de la Francophonie (Hari...

Seperti tahun-tahun sebelumnya, la Journée internationale de la Francophonie – la Semaine de la langue française et de la Francophonie (Hari Internasional Penutur Bahasa Prancis – Seminggu Berbahasa Prancis dan Pekan Penutur Bahasa Prancis) diadakan pada tahun ini dari 17 s.d. 25 Maret. Puncak acaranya sendiri jatuh pada tanggal 20 Maret 2018. Program ini memberikan kesempatan bagi para pencinta bahasa Prancis di seluruh dunia, tidak saja di negara asalnya, untuk turut mengekspresikan diri dan merayakan kekayaan serta keberagaman bahasa Molière tersebut.

Sepanjang minggu pada tanggal-tanggal di atas, sejumlah tokoh masyarakat, budaya, dan pendidikan biasanya menyelenggarakan acara-acara yang berhubungan dengan bahasa Prancis, seperti seminar, debat, diskusi, pertunjukan, pelatihan menulis, perlombaan puisi, dan sebagainya. Termasuk di tanah air, jurusan maupun program studi kebahasaprancisan (pendidikan atau sastra) di berbagai pendidikan tinggi serta Institut Français sebagai pusat kebudayaan Prancis di Indonesia, ikut juga mengundang banyak partisipan supaya turut serta memeriahkan acara yang berkaitan dengan la Semaine de la langue française et de la Francophonie ini. 

Sementara itu, berdasarkan info resmi terkait program ini pada situs web Culture-Communication, tema yang diusung untuk kegiatan tahunan “Dis-moi dix mots” (Katakan padaku Sepuluh Kata) yaitu la parole.

Baca juga:
Mengapa Anda harus belajar Bahasa Prancis?




Ungkapan '' avoir un poil dans la main'' yang berarti secara harfiah "ada rambut halus (bulu) di telapak tangan"...

Ungkapan ''avoir un poil dans la main'' yang berarti secara harfiah "ada rambut halus (bulu) di telapak tangan", merupakan sebuah kiasan. Makna sebenarnya dari ungkapan tersebut yaitu "sangat malas".

Dapat diibaratkan seperti seseorang yang tidak melakukan apa-apa karena kemalasannya, sehingga rambut pun bisa tumbuh di telapak tangannya. Tangan pemalas yang tidak digunakan sebagaimana mestinya untuk mengerjakan sesuatu.

Ungkapan yang mulai dipakai penutur bahasa Prancis sejak abad ke-19 itu belum diketahui asal muasalnya secara pasti.

Bahkan jika hendak menyebut seseorang yang super malas, Anda bisa juga katakan "avoir une queue de vache dans la main". Ada ekor sapi tumbuh di telapak tangannya!

Alors, pour bien apprendre une langue étrangère, il ne faut pas "avoir un poil dans la main".

[Referensi]

Perjalanan Paris-Toulouse yang ditempuh kurang lebih delapan jam dengan menggunakan bus tahun lalu, memberikan kesempatan yang cukup lama ba...

Perjalanan Paris-Toulouse yang ditempuh kurang lebih delapan jam dengan menggunakan bus tahun lalu, memberikan kesempatan yang cukup lama bagi saya untuk berbincang dengan seorang bapak yang duduk di jok sebelah. Sepanjang perjalanan, kami bercakap mengenai banyak hal. Apalagi kami berdua sama-sama beruntung dapat membeli tiket perjalanannya dengan tarif promo yang murah, hanya 8 euro untuk sekali jalan. Sedangkan trayek sebaliknya, Toulouse-Paris, saya peroleh dengan membayar 12 euro, masih termasuk tarif promo!

Sebenarnya bukan cerita tentang ini yang akan saya tulis di sini. Namun salah satu topik diskusi kami selain tentang Jawa dan Bali, adalah soal bahasa dan budaya Prancis. Memang, saya banyak bertanya kepada beliau terutama tentang ungkapan-ungkapan yang membuat saya tertarik mendalami bahasa Molière tersebut.

Ungkapan atau ekspresi adalah sebuah kata atau kalimat untuk mengutarakan suatu hal dengan menggunakan pengandaian tertentu. Karena perbedaan budaya, terkadang sebuah makna dalam bahasa asing diungkapkan dengan cara yang sama sekali lain. Kali ini, saya akan membahas ungkapan yang digunakan dalam bahasa Prancis untuk menyatakan keadaan lapar –ingin segera makan.

Tanpa menggunakan ungkapan, Anda bisa bilang: J’ai faim. (Saya lapar.)

Dalam budaya Indonesia, kita sering mengatakannya dengan idiom: perut yang keroncongan.

avoir faim de loup

Loup (n.m.) yang berarti serigala, memiliki posisi yang penting dalam dongeng, legenda, dan mitologi di negara-negara Eropa. Pada umumnya, binatang buas ini memiliki peran yang negatif atau jahat. Mungkin Anda masih ingat dengan cerita Tiga Babi Kecil? Maksud ungkapan ini mudah dipahami, bukan? Ketika Anda bilang, “J’ai faim de loup.”, maka dapat diartikan secara harfiah: “Saya lapar seperti serigala (yang tengah memangsa tiga babi kecil untuk segera dimakan).”


avoir la dalle

dalle (n.f.) adalah sebuah tempat terbuka di antara bangunan atau gedung, yang datar dan kosong. Kata dalle juga digunakan untuk menyatakan tidak ada apapun; kosong. Dengan konsep ini, Anda bisa ungkapkan “J’ai la dalle” ketika lapar sekali. Seolah-olah perut Anda kosong sehingga perlu segera diisi makanan.   


Mourir de faim

mourir (v.) berarti mati; meninggal. Ini adalah ungkapan yang paling langsung dan keras untuk menyatakan Anda tengah kelaparan, hingga hampir meninggal. Sebuah keadaan yang urgen, harus cepat-cepat menuju meja makan. Dalam ungkapan ini, seolah-olah Anda tengah meminta perhatian khusus dan moral yang baik dari lawan bicara Anda, terhadap suatu krisis kelaparan –seperti yang melanda beberapa tempat di dunia, yang menyebabkan kematian massal. Maka katakan, “Je meurs de faim.”.


Ungkapan lain yang lebih formal:
Untuk mengakhiri tulisan ini, berikut adalah beberapa ungkapan lain yang sedikit lebih formal untuk menyatakan hal yang sama:
mon ventre crie famine; avoir le ventre creux; avoir une faim dévorante; être affamé

“Perancis atau Prancis?” merupakan salah satu pertanyaan yang sering muncul terutama ketika hendak menulis. Manakah ortografi yang tepat di ...

“Perancis atau Prancis?” merupakan salah satu pertanyaan yang sering muncul terutama ketika hendak menulis. Manakah ortografi yang tepat di antara keduanya?

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V, penulisan yang paling benar sesuai kaidah yaitu “Prancis”.

Prancis adalah sebuah negara berbentuk pemerintahan republik. Negara dengan ibu kota yang berkedudukan di Paris ini, secara geografis, terletak di benua Eropa.

Sementara itu, kata “Perancis” tidak ditemukan dalam penelusuran KBBI. Maka, kata “Perancis” termasuk dalam ragam penulisan tidak baku. 

Walaupun demikian, kita masih dapat menemukan penulisan "’Perancis” ini bahkan dalam beberapa media pemberitaan nasional seperti ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Merdeka.com & Tempo.co


Sumber gambar:
https://www.merdeka.com/dunia/perancis-akan-menyerang-jika-senjata-kimia-digunakan-di-suriah.html 
https://dunia.tempo.co/read/1062991/turki-operasi-militer-buru-kurdi-di-afrin-suriah-berlanjut